Digital Lifestyle Indonesia menuju era Open Source

Digital Lifestyle
Digital Lifestyle

Pada tanggal 7 agustus 2008 berlangsung konferensi "Digital Life Style" yang dibuka oleh Muhammad Nuh, Menteri DepKomInfo. Konferensi ini mengusung tema "Kebangkitan nasional melalui kreativitas digital" dan salah satu kegiatan INAICTA 2008. Konferensi ini diisi oleh keynote speaker Mr. Rinaldi Firmansyah (CEO Telkom Indonesia) dan Mr. Guntur S. Siboro (Marketing Director PT. Indosat). Keadaan dan kondisi masyarakat Indonesia yang semakin berkembang membentuk budaya digital yang unik. Ini menjadi gambaran umum materi yang diperbincangkan. Namun, tidak disangka ternyata dua keynote speaker memiliki suatu kesamaan dalam penyampaian materi. Era Digital Lifesytle ternyata sangat terkait dengan budaya Open Source yang semakin subur di Indonesia. Bagaimana kaitan antara digital lifesytle dengan open source? Bagiamana dua hal ini dapat membentuk kerjasama? Semua akan diulas lebih dalam.

"Key Success Factor for Digital Lifestyle Implementation" merupakan judul materi Mr. Rinaldi. Ditunjukkan 3 hal yang menjadi obyek trend digital di Indonesia yaitu Open, Sharing dan Peering. Open adalah keterbukaan antara satu dengan yang lain. Contoh keterbukaan infomasi terlihat dari aneka blog di Indonesia yang selalu bertambah tiap detik. Sharing adalah proses pemberian informasi. Seorang anak SD sedang mengerjakan PR-nya. Karena mengalami kesulitan maka dia mengirimkan email kepada temannya untuk sama-sama mencari solusi dari PR. Proses sharing ilmu pengetahuan terjadi melalui internet. Peering adalah bentuk keakraban. Proses interaksi dari Open dan Sharing membentuk suatu keakraban. Di internet, semakin mudah orang menemukan teman serta memperluas pergaulan. Tiga hal inilah yang mendasari trend digital di Indonesia.

"Digital Lifestyle Trends In Indonesia" adalah judul materi Mr. Guntur. Pembukaan awal dimulai dengan perbincangan ranking website di indonesia berdasarkan 20 top sites indonesia versi alexa.com. Dari peringkat tersebut terlihat gambaran tentang obyek yang sering diamati penduduk indonesia di Internet. Dari peringkat ini dapat diambil gambaran kasar tentang obyek yang sering diamati pada digital lifestyle. Salah satu gambaran yang dapat diambil adalah trend pengakuan diri di Internet. Game Second Life dan Avatar merupakan salah satu contoh efek yang nyata. Banyak orang mulai membuat diri versi virtual di Internet. Keinginan untuk diakui di dunia maya menjadi kebutuhan yang baru. Keinginan inilah yang akhirnya membentuk trend masyarakat digital di Indonesia.

Open Source
Open Source

Lalu apakah keterkaitan dengan open source? Perlu diketahui, sejak awal open source telah membentuk budaya yang unik. Budaya keterbukaan informasi, sharing, berteman serta gratis adalah ciri khas dari open source. Banyak sekali komunitas open source di Indonesia memiliki dasar pondasi budaya seperti ini. Terkadang mengeluarkan uang saku pribadi demi berbagi pengetahuan Open Source juga dilakukan. Budaya bertukar ilmu membuat anggota dari komunitas open source semakin berkembang. KPLI merupakan budaya open source di Indonesia. Contohnya adalah KPLI Jogja yang berisi dari pengguna Linux di wilayah Jogja dan sekitarnya. Didalam komunitas ini terjalin proses sharing, open informasi dan berteman. Budaya di dalam KPLI Jogja tentu memiliki kesamaan dengan trend digital lifestyle yang telah dikemukakan dua pembicara tersebut.

Kesimpulannya, budaya open source dan lifestyle ternyata memiliki banyak kesamaan. Bila kedua trend ini mampu merge maka akan menghasilkan satu budaya yang kuat. Disisi teknologi, open source menunjukkan kehandalannya dan trend digital lifesyle memberikan dukungan di sisi sosial. Bukan tidak mungkin Indonesia nantinya memiliki trend digital yang terbuka serta open source.

Comments

Jangan lupa satu digital lifestyle yang sudah mendarah daging di Indonesia: Pembajakan.

Tampaknya BlankOn juga mulai masuk di hati masyarakat Indonesia. Saya membayangkan kalau rakyat Indonesia semua menggunakan BlankOn dan bangga menggunakannya sebagai produk Indonesia, maka budaya pembajakan mungkin akan ditinggalkan.

@triyan:
Betul sekali! Pembajakan memang sudah mendarah daging dan menjadi persoalan yang sulit untuk diselesaikan. Blank On memang mulai merambah dan berkembang. Saya berharap, Blank On selalu menyempurnakan diri agar nantinya bisa membuat branding default OS Linux di Indonesia.

Jangan lupa satu digital lifestyle yang sudah mendarah daging di Indonesia: Pembajakan.

Tampaknya BlankOn juga mulai masuk di hati masyarakat Indonesia. Saya membayangkan kalau rakyat Indonesia semua menggunakan BlankOn dan bangga menggunakannya sebagai produk Indonesia, maka budaya pembajakan mungkin akan ditinggalkan.